POLITIK KANCIL PARTAI BERINGIN
Wacana penetapan
Aburizal Bakrie (Ical) sebagai calon presiden dari Partai Golkar menuai banyak
polemik dan kisruh internal partai berwarna kuning itu. Terdapat banyak elit
internal partai yang mengkritik soal mekanisme penetapan calon presiden dari
partai berlambang beringin tersebut. Hal ini dikarenakan sikap terburu-burunya
pengurus DPP partai Golkar untuk melaksanakan rapat pimpinan nasional khusus
(rapimnassus) dengan mengagendakan mekanisme penetapan calon presiden dari
partai golkar. Ini akan berdampak pada fungsi dan peran fungsionaris partai
yang notabene memiliki kans sebagai calon presiden. Sebut saja Jusuf Kalla,
Akbar Tandjung, Agung Laksono, Fadel Muhammad, mereka memiliki peluang untuk
menjadi capres 2014 mewakili partai beringin itu.
Terlepas dari siapa
figur yang akan mewakili partai yang berslogan “suara golkar suara rakyat” itu,
ada tiga persoalan yang dapat menyebabkan golkar terpecah belah pada pilpres
2014. Pertama, golkar tidak memiliki tokoh sentral yang bisa
menyatukan seluruh kader di pusat dan di daerah. Ini akan berdampak pada
eksistensinya sebagai partai besar yang pernah menduduki kejayaannya di massa
orde baru. Ini akan menyulitkan partai dalam menentukan mekanisme penetapan
capres 2014 nanti. Betapa tidak, sikap arogansi ketua umum, Ical menunjukkan
bahwa golkar tengah dibelenggu kepentingan perorangan tidak mengedepankan
kepentingan organisasi. Dalam istilah kleden ini disebut sebagai privat area sang nakhoda yang tidak
semua orang bisa memasukinya, termasuk para elit fungsionaris.
Akrobat politik
internal yang diperankan elit golkar semacam ini tidak hanya terjadi saat ini.
Di era Orde Baru, ruang privat area
itu selalu ada meskipun kondisinya lebih kondusif
pada saat itu karena terdapat central figure yaitu Soeharto yang
menyatukan sikap para kader di daerah sehingga roda
organisasi berjalan dengan mapan. Privat area di tubuh golkar ini
akan menyebabkan kerapuhan identitas partai karena ruang-ruang yang lain hanya
diciptakan untuk mengikuti kehendak sang pemilik private area.
Kedua, partai golkar mengabaikan strategi komunikasi politik
internal sesama kader partai baik di pusat maupun di daerah yang kadang-kadang
menjadi lawannya di internal partai itu sendiri. Hal ini akan berpengaruh pada
figur atau tokoh-tokoh golkar yang kalah dalam pertarungan di internal partai
seperti pada saat penetapan calon presiden atau calon legislatif. Jika secara
kelembagaan partai ini kuat membina hubungan komunikasi politik sesama
kadernya, maka konstalasi politik internal partai tidak sekeras seperti
sekarang ini, atau dengan kata lain seluruh kader partai akan menjaga
soliditasnya sebagai bagian dari lembaga. Maka tidak ada yang berpindah partai
ataupun bermuka dua.
Disamping itu, partai ini tidak memiliki basis rekruitment yang terstruktur
dan massif. Partai ini cenderung didominasi kalangan elit menengah. Pada
umumnya masyarakat bawah hanya dilibatkan pada saat momentum kampanye Pilkada,
Pilpres ataupun Pileg saja. Tanpa ada rekruitment kader secara terstruktur,
terorganisir secara massif. Jika demikian, maka partai akan diisi oleh
individu-individu yang syarat mengedepankan kepentingan pribadi bukan
kepentingan kolektif anggota partai.
Pengalaman pemilu 2004 dan 2009, partai golkar banyak yang memprediksi
akibat kekalahannya disebabkan oleh banyaknya cabang-cabang kelompok di
lingkungan internal partai yang saling melemahkan satu sama lainnya, dan bahkan
ada kemungkinan terdapat kelompok yang membelot dari keputusan partainya. Ini
sungguh ironis, partai sekaliber golkar masih belum mampu mengurus sikap
konsistensi kadernya demi menguatkan partainya sendiri.
Dan yang ketiga, basis ideologi kader partai golkar tidak mengarah
kepada kesuksesan partainya namun banyak diisi dengan syahwat politik pribadi.
Pengalaman pertarungan Aburizal Bakrie dengan Surya Paloh pada perebutan kursi
ketua umum menunjukkan bahwa kader partai golkar tidak menguatkan kesuksesan
partai. Pasca terpilihnya Ical sebagai ketua umum golkar, terdapat beberapa
kelompok pendukung Surya Paloh yang memisahkan dirinya kedalam sekte yang
berbeda, seakan menunjukkan sikap tidak sepakat dengan ketua umum terpilih. Sehingga banyak
sekali tokoh-tokoh golkar yang tanpa berpikir panjang loncat ke partai-partai
lain atau bahkan banyak yang mendirikan partai sendiri. Berbeda dengan Partai Demokrat, beberapa kadernya yang bersaing dalam
bursa ketua umum tidak saling menunjukkan sikap kecewa ataupun tidak mendukung
ketua umum terpilih. Begitu juga dengan PDI Perjuangan, tidak ada kader yang
memprotes atas duduknya Megawati sebagai ketua umum partai, bahkan sebagian
besar merasa jika figur Mega adalah bagian dari partai. Inilah yang kemudian
menjadi tantangan partai beringin itu untuk memenangkan Pemilu 2014 nanti.
Ambisi ketua umum Ical memang terlihat nyata untuk menjadi capres 2014
tetapi tidak kemudian menutup keputusan kolektif partai. Seluruh kader partai
ini memiliki hak bersuara
secara terbuka tidak hanya pada mekanisme organisasi partai di tingkat
kepengurusan saja. Hal ini akan berpengaruh pada soliditas kader partai yang
saling menjagokan figurnya untuk menjadi capres 2014 dari partai beringin ini.
Kolektivitas pengurus
DPD I dan II Partai Golkar sebagaimana diklaim oleh Sekjend Idrus Marham bahwa
sebagian besar mendukung secara resmi akan penetapan Ical sebagai Capres 2014
dari Partai Golkar. Pernyataan sekjend di berbagai media massa, dilihat dari
komunikasi politik menandakan bahwa pencalonan Ical memang sudah teragendakan
sejak lama, apapun mekanisme yang akan ditempuh partai ini Ical ditargetkan
menjadi Capres 2014.
Ada hal menarik
dari komentar-komentar elit golkar terkait wacana penetapan Ical sebagai Capres
2014 dan wacana menghilangkan mekanisme konvensi. Pengalaman partai ini
menjalankan konvensi sebagai cara berdemokrasi telah dilakukan pada tahun 2004
dan ketika itu Wiranto terpilih sebagai Capres dari partai golkar berpasangan
dengan Solahudin Wahid. Namun, pengalaman itu ternyata tidak membuat kader
golkar dewasa dalam berdemokrasi. Hari ini, kemungkinan besar golkar tidak lagi
menjalankan konvensi sebagai sistem penjaringan calon presiden. Jika ini
terjadi, ada banyak kader-kader terbaik partai golkar yang akan kehilangan
kesempatannya untuk mendapatkan rekomendasi partai sebagai calon presiden.
Peluang besar justru akan ada pada petinggi partai di kepengurusan, seperti
ketua umum dan sekretaris jenderal.
Elektabilitas
Boleh jadi posisi
ketua umum partai memiliki modal dan daya tawar kuat untuk menjadi calon
presiden mewakili partainya. Tapi ada satu hal yang tidak bias dilupakan oleh
siapapun mestinya, yaitu elektabilitas figur dengan elektabilitas partai. Ada
probabilitas yang melekat pada kita, yakni seseorang bisa menjadi tokoh karena
partainya dan partai bisa menjadi besar karena tokohnya. Posisi golkar ada pada
pernyataan pertama. Bukti nyata ketika partai ini melakukan survey internal yang
tidak menempatkan ketua umum di urutan teratas. Survey terakhir Lembaga Survei
Indonesia (LSI) pun menunjukkan bahwa posisi ketua umum masih di posisi rendah.
Megawati Soekarno Putri (15,6%), Prabowo Subianto (10,6%), Jusuf Kalla (7%) dan
Aburizal Bakrie (5,6%). Itu artinya, penetapan capres partai golkar harus benar-benar
mendapatkan pertimbangan dari seluruh kadernya.
Menjawab pertanyaan
publik soal estafet kepemimpinan, golkar memang pandai dalam mengembangkan
potensi kader-kadernya. Di sana ada proses regenerasi dari masa ke masa.
Dibandingkan dengan partai-partai lainnya, golkar selalu memunculkan
tokoh-tokoh baru pada setiap massa. Ini kemudian menjadi modal bagi partai tua
ini dalam setiap menentukan calon presiden. Estafet kepemimpinan dalam roda
organisasi memang mutlak dibutuhkan karena tidak selamanya satu pemimpin
berdiri kekal, dan dipastikan ada masanya.
Proses regenerasi
ini juga seyogyanya akan mempengaruhi kredibilitas dan elektabilitas partai.
Sebagai partai besar, golkar punya basis sampai ke level RT/RW dan karenanya
partai ini jika tidak mampu mengakomodir kader secara signifikan akan
memunculkan serangan-serangan politik dari internalnya. Selamat berjuang partai
golkar!