SI DOEL JADI GUBERNUR ?

Mahkamah Agung (MA) telah memutuskan memperberat hukuman untuk Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Banten non-aktif), artinya selangkah lagi Rano Karno yang kini sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Banten akan menduduki kursi yang pernah dimiliki Ratu Atut yaitu sebagai Gubernur Banten. Barangkali menjadi Gubernur Banten juga diimpikan Rano Karno selama ini, terlebih sejak Ratu Atut Chosiyah didera kasus hukum yang menimpanya. Dilihat dari aspek hukum dan administrasi negara kita, jika Gubernur berhalangan tetap karena terpidana hukum secara otomatis wakilnya akan naik tahta atau menggantikan sang gubernur.

Namun, sikap Rano Karno tak harus bersemangat atau berbahagia karena akan menjadi Gubernur yang berkuasa di Banten, bersikaplah seperti biasa saja, karena boleh jadi jika euforia kebahagiaannya untuk menjadi Gubernur akan dikatakan sebagai orang yang sedang bahagia di atas penderitaan orang lain. Predikat itu tak pantas melekat atau dilekatkan pada soerang pemimpin. Oleh karena itu, Rano Karno tetaplah menjadi si Doel yang diperankannya sewaktu bermain film. Doel yang dikenal masyarakat adalah Doel yang sopan, santun, mengerti tata krama. Apalagi Doel kini telah menjadi manusia dibalik layar dan menduduki jabatan strategis di tanah sultan ini. 
Kemudian, jika tak ada aral melintang, atau Ratu Atut menerima dengan ikhlas atas putusan itu alias tidak lagi memperpanjang proses hukumnya yaitu melakukan upaya hukum luar biasa (Peninjauan Kembali) atas putusan yang memperberatnya, maka Rano Karno akan menjadi Gubernur dengan seksama. lebih hebatnya lagi, jika Rano Karno sowan kepada Ratu Atut yang tidak lain adalah mantan pimpinannya selaku Gubernur sebelumnya. Ini sederhana namun bermakna dimana-mana, masyarakat Banten senang dengan sesuatu yang santun, mengedepankan keakraban, tidak menghamburkan energi untuk sekedar bersuka cita. Rano Karno, memimpin itu dimulai dengan bersikap sopan santun dan tidak mengumbar suka cita berlebihan apalagi janji-janji yang lain. 
Menjadi pemimpin, kurangilah janji. Sebab janji adalah hutang, jika tidak dapat memenuhinya kelak ia akan menjadi hambatan di depan. Hambatan di dunia, apalagi di akhirat. 
Masyarakat Provinsi Banten tak begitu mempersoalkan siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan Ratu Atut Chosiyah, darimanapun latar belakangnya yang terpenting dapat menjadi pemimpin yang amanah bagi rakyat Banten. sejuta tantangan di depan telah nampak, goncangan politik di parlemen (DPRD) sudah menjadi hal lumrah bagi pemimpin eksekutif, apalagi seperti Rano Karno yang akan naik tahta dan memerlukan pendamping atau Wakil nya nanti. Memilih wakil, tidaklah mudah namun jika dikatakan sulit seberapa sulitkah? Bukankah hal sesungguhnya dalam memilih wakil adalah hak penuh Gubernur, karena itu, bertindaklah sesuai dengan apa yang menjadi keyakinannya untuk memimpin. Kini, putusan itu ada pada Rano Karno. Buktikan jika Doel kini hijrah ke tanah Sultan. 

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI LIU XIAOBO

ATUT CHOSIYAH: Pemuda Harus Menjadi Estafet Kepemimpinan