MEMBACA (POLITIK) KAUM PINGGIRAN
Meski penetapan calon
bupati/wakil bupati Tangerang pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) tahun
2012 ini belum disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten
Tangerang, nampaknya sejumlah masyarakat sudah memiliki persepsi siapa saja
nama-nama yang akan meramaikan pesta demokrasi di Kabupaten Tangerang itu. Hal
lain yang menjadi isu krusial yakni para bakal calon (balon) itu mengusung isu pemimpin
muda. Seiring dengan bergulirnya wacana regenerasi kepemimpinan nasional dengan
ekspektasi masyarakat munculnya pemimpin-pemimpin muda nampaknya di Kabupaten
Tangerang isu tersebut dipopulerkan oleh balon-balon yang mengaku pemuda.
Bukan lantaran tercatat
sebagai kader Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ataupun berusia lebih
muda dari pemimpin sebelumnya. Para balon yang bermunculan gambarnya di
ruang-ruang publik itu mestinya melihat jargon sosialisasinya dengan sebuah
persoalan yang dialami masyarakat, bukan persoalan siapa yang lebih muda.
Jargon-jargon semisal “Muda dan Peduli”, “Dekat Merakyat”, “Menuju Perubahan”
atau jargon lainnya yang belum berani muncul tidaklah memiliki efek terhadap
ekspektasi masyarakat. jargon tersebut hanya berfungsi sebagai penyegar suasana
kampanye politik saja, dan tidak lebih.
Wacana regenerasi
kepemimpinan pemuda tidak berlaku bagi kalangan masyarakat pinggiran. Tua dan
muda bukan menjadi ukuran dalam memimpin, apalagi belum ada definisi pasti tua
dan muda. Saya berpendapat pada Pemilukada Kabupaten Tangerang ini, masyarakat
memiliki ekspektasi yang rendah terhadap para figur balon. Disini, saya
memberikan istilah “kaum pinggiran” berarti di luar itu ada kelompok elite.
Satu persatu, ada baiknya kita lihat secara objektif tentang apa pengaruh dari
Pemilukada bagi kaum pinggiran dan kelompok elite.
Pertama,
bagi kelompok elite Pemilukada adalah momentum untuk berebut kursi kekuasaan.
Tidak hanya balon bupati dan wakilnya saja yang ingin berkuasa melainkan
orang-orang sekeliling balon yang diusungnya juga memiliki tujuan berkuasa,
hanya saja porsi kekuasaannya yang bertingkat-tingkat. Oleh karenanya, tak
heran jika tim sukses, relawan dan para pegiat lainnya juga saling berlomba
mengusung kandidat pilihannya masing-masing, sementara kalau kita lihat di
pelosok-pelosok daerah tidak ditemukan adanya ekspektasi tentang siapa-siapa
yang diharapkan untuk terpilih, mereka hanya memikirkan nasib keluarga dan
anak-anak mereka, tidak terjadi aktivitas loby meloby memilih kandidat kecuali
diperankan oleh kelompok elite tadi. Artinya, sebagian besar masyarakat
pinggiran memilih untuk diam dan tidak mengambil langkah politik secara masif
mendukung salah satu kandidat. Dari sini, Pemilukada bernilai kecil bagi kaum
pinggiran.
Kedua,
mengenai kandidat yang bermunculan gambarnya di ruang-ruang publik tak aneh
bagi kaum pinggiran dalam melihat sejumlah baliho ataupun sejenisnya itu.
Mereka melihat itu sebatas fenomena berjangka yang hanya terjadi pada saat
jelang Pemilukada. Sementara bagi kelompok elite fenomena semacam ini menjadi
penting dan bagian dari perang opini. Maka tak jarang kita lihat diantara
mereka yang terjadi konflik akibat fenomena jual gambar itu. Berbagai propaganda
dan agitas bahkan black campaign pun
dilakukan. Ketiga, bagi para tim
sukses masing-masing balon menyukai kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa
(voters) seperti menghadiri Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Pengajian
Majelis Taklim, Pertemuan Keluarga, dan semacamnya yang dianggap dapat
mempengaruhi pilihan mereka dalam memilih calon bupati/wakil bupati. Sementara
pada kaum pinggiran kegiatan itu hanya diartikan sebagai sesuatu yang jarang
terjadi, karena dihadiri oleh pejabat atau calon bupati/wakil bupati.
Ekspektasi mereka bukan pada penilaian figur ataupun program-program yang akan
dilakukan melainkan sebatas seremonial belaka dan bahkan hanya mengharapkan
bingkisan yang tak jarang dibagikan oleh sang kandidat.
Kemudian, mengenai jargon
para kandidat seperti di atas sifatnya hanya temporer saja dan terbentuk
sekaligus terpublikasikan pada saat jelang kampanye politik. Kaum pinggiran
tidak melihatnya dengan penuh perhatian. Para kandidat mestinya melihat jargon
dengan melihat juga persoalan yang kini sedang dialami masyarakat. di beberapa
wilayah Kabupaten Tangerang masih banyak persoalan yang menyangkut kemiskinan, pengangguran,
lingkungan kumuh, pelayanan kesehatan dan semacamnya yang seharusnya menjadi
perhatian para kandidat untuk menerangkan kepada publik sehingga publik akan
mengeluarkan ekspektasinya kepada siapa yang dapat menyelesaikan persoalan
tersebut, bukan bermain elit-elitan.
Sosiolog Interaksionisme
simbolik, Herbert Blumer (1962) mengemukakan dalam teorinya tersebut bahwa
masyarakat bukanlah sesuatu yang statis yang selalu mempengaruhi dan membentuk
diri kita, namun sebaliknya masyarakat merupakan sebuah proses interaksi.
Artinya, kalaupun para kandidat maupun tim suksesnya yang selalu berinteraksi
dengan masyarakat pinggiran tidak menjamin bahwa keberadaannya akan
mempengaruhi kondisi masyarakat tersebut. Karena bukan solusi yang ditawarkan
melainkan hadiah atau reward. Kalau demikian yang terjadi berlakukalah teori cost and reward dan tentu saja
yang berinteraksi hanyalah kandidat dan tim suksesnya saja tidak sampai kepada
masyarakat.
Sudah sepatutnya elite
politik memahami kondisi seperti ini, kita semua harus mengakui bahwa di sana
ada kaum pinggiran yang mempunyai hak politik sama dengan yang lainnya.
Pendidikan politik mereka ditentukan oleh cara pandang elite dalam
memperlakukannya, apalagi pada saat momentum Pemilukada. Kaum pinggiran memang
bukan kaum marjinal seperti pendapat Karl Marx karena dipengaruhi budaya
proletarianisme. kaum pinggiran ini adalah mereka yang tidak pernah diberi
kesempatan mengetahui kondisi riil wilayahnya dan hanya merasakan persoalannya
saja. Semoga kandidat Bupati dan Wakil Bupati Tangerang melihat fenomena ini
sebagai isu krusial yang harus mereka jadikan tema pencalonannya di Pilkada
Kabupaten Tangerang.