MANUVER ICAL DAN NASIB PARTAI BERINGIN

Pasca keputusan Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnassus) Partai Golkar Juni 2012 yang menetapkan Aburizal Bakrie sebagai Calon Presiden 2014 nampaknya akan muncul polemik baru di tubuh partai berlambang beringin tersebut. Sejak semula isu pencapresan sang ketua umum itu muncul, berbagai kecaman sekaligus dukungan datang beriringan dari sejumlah tokoh internal maupun eksternal partai. Interpretasinya pun bermacam-macam jika sampai harus terjadi Ical sebagai Capres 2014 yang diusung Partai Golkar.

               
Secara administratif, Ical memang telah resmi mengantongi legalitas partai untuk diusung sebagai Capres melalui mekanisme Rapimnassus yang mengagendakan penetapan calon presiden. Namun dibalik mekanisme itu ada hal-hal yang semestinya diperhatikan dalam rangka menjaga citra partai yang jauh lebih penting ketimbang citra personal ketua umum. Dalam teori Political Marketing, Henneberg (2004) berpendapat bahwa dalam penggunaan instrumen marketing dalam politik syarat menyiratkan atrofi dan kelainan. Artinya, ketika Aburizal Bakrie memberi kesan bahwa dirinya figur yang paling layak untuk mewakili Partai Golkar dalam Pilpres 2014 dan instrumen yang digunakannya adalah mekanisme penetapan bukan konvensi sebagaimana partai ini pernah menggunakannya pada 2004, maka ia telah menggunakan instrumen itu untuk sesuatu yang lain atau yang baru. Kenapa demikian? Tentu saja Partai Beringin itu telah menggunakan mekanisme demokrasi yang dianggap paling baik dan beretika ketika melakukan penjaringan Capres pada 2004 lalu dan kini mekanisme itu berubah sehingga instrumen yang digunakan dalam marketing politiknya pun cenderung mengalami kelainan.

Saya berpendapat peluang Ical dan Partai Golkar bergantung pada tumbuhkembangnya opini arus bawah atau DPD II yang menolak mekanisme penetapan. Legalitas yang kini didapat Ical akan menjadi polemik baru bagi internal Partai Golkar. Isyarat itu sudah ada sejak munculnya opini tokoh dan fungsionaris Partai Golkar seperti Akbar Tandjung dan yang lainnya telah mempengaruhi beberapa kans arus bawah, terlebih nama sang ketua umum itu memiliki cacat sosial yakni kasus lapindo. Kepercayaan diri yang dibangun Ical dengan legalitas partainya boleh saja untuk menunjukkan eksistensi partai yang pernah mengalami kejayaannya pada era Soeharto ini, namun tidak boleh dilupakan jika masih terdapat ganjalan di internal baik pusat maupun arus bawah.

Ada empat hal yang menjadi catatan penting pasca ditetapkannya Ical melalui Rapimnassus tersebut. pertama, kekecewaan yang dialami kans internal partai dan arus bawah belum redam dan cenderung mencari peluang baru, sehingga kejadian buruk yang dikhawatirkan kedepan yaitu adanya label buruk terhadap gagasan, opini maupun objek Aburizal Bakrie sebagai tokoh golkar yang nantinya akan menganggu perjalanannya menuju Capres 2014. Labeling ini bisa dimulai dari kans internal yang kemudian menjadi kunci bagi lawan-lawan politik eksternal dalam menurunkan citra Ical dan Partai Golkar.

Kedua, minimnya testimoni yang mengamini Ical maju sebagai Capres dari Partai berwarna kuning itu. Testimoni memang mudah dibuat namun tak sembarang bisa dibuat. Bagi Ical testimoni sangatlah mudah untuk dibuat karena ia memiliki peran media massa yang cukup membantu keluaran opini dari testimoni itu. Tetapi, disini testimoni itu harus datang dari tokoh yang merupakan kans intrenal Ical di partai golkar. Ini akan menunjukkan bahwa Golkar dan Ical tetap solid setelah siapapun ditetapkan sebagai Capres. Hal ini penting guna meredam kekecewaan kans internal yang pernah tidak mengamini Ical sebagai kandidat dari Golkar. Lagi-lagi, Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla berpeluang untuk memberikan testimoni yang dapat meredam kekecewaan kans internal ataupun arus bawah untuk menyatukan visi-misi memenagkan Ical sebagai RI-1. Ini adalah PR Ical dan rekan-rekannya untuk menegaskan kepada publik bahwa Partai Golkar solid dan memiliki kekuatan satu menyeluruh.

Ketiga, Retorika Ical dan partai Golkar cenderung menurun. Ini patut diperhatikan oleh para pendukung Ical dan partai Golkar karena berkaitan dengan komunikasi politik partai, out put nya akan lebih luas, yaitu lingkup internal partai dan eksternal partai. Retorika ini berfungsi dua macam keluaran, one to one dan one to many. Proses komunikasi politik ini mesti dibangun karena posisi Ical yang kini memiliki cacat sosial yang tak kunjung terbayar, yaitu kasus lumpur lapindo. Ical semestinya memberikan ruang negosiasi secara partikular untuk meredam opini yang menjadikannya cacat sosial itu menjadi halus (soft). Negosiasi yang dilakukan melalui retorika One to Many akan membantunya bernegosiasi dengan publik secara halus untuk mendapatkan citra positif sebagai calon pemimpin bangsa. Kemudian, implikasi dari cara ini adalah mereka yang berada dalam arus bawah (kans internal). Retorika one to one mengindikasikan Ical sebagai seorang ketua umum partai yang dapat berdialog dengan semua kalangan dan secara personal. Nama Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung adalah contoh tokoh senior Golkar yang perlu diajak berkomunikasi secara personal, one to one. Ini akan membantu Ical dalam meraih citra pemimpin partai yang plural yang dapat mengakomodir semua kalangan.

Keempat, Partai Golkar bukanlah partai yang minim resiko kehilangan popularitas. Popularitas itu sendiri dibutuhkan bagi parpol manapun untuk menunjang keberhasilannya sebagai kontestan pemilu. Golkar merupakan partai besar yang mengalami puncak kejayaannya pada era Presiden Soeharto, ajaibnya partai itu hingga kini masih tergolong sebagai partai full power meskipun tidak sedang menguasai pemerintahan. Disini, penekanannya adalah polularity yaitu bagaimana seorang ketua umum bersama kader-kadernya mendulang popularitas partai untuk maju menjadi yang unggul. Dalam istilah komunikasi politik upaya meningkatkan popularitas partai menjadi bagian dari bandwagon, yaitu usaha untuk meyakinkan khalayak akan kepopuleran dan kebenaran tujuan (Gun Gun H,2009).

Apa-apa yang menjadi upaya Ical beserta rekannya untuk menunjukkan kepada publik bahwa Golkar memiliki suara signifikan dan berupaya memenangi pemilu 2014 adalah bagian dari manuver yang tak terpisahkan dari wacana Pencapresan Ical di 2014, sehingga legalitas partai pun telah diyakini sebagai langkah awal untuk menuju RI-1. Namun tetap saja, upaya personal dan partai tidak bisa dipisah-pisahkan karena akan menjadi satu kesatuan antara personal sebagai figur dan partai politik sebagai kelembagaan. Jika persoalan-persoalan yang kini menyertai personal Ical dan Partai Golkar itu tidak dibenahi, bukan tidak mungkin Ical dan partainya akan tereliminasi sebagai pemenang Pemilu 2014.

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI LIU XIAOBO

SI DOEL JADI GUBERNUR ?

ATUT CHOSIYAH: Pemuda Harus Menjadi Estafet Kepemimpinan