SYAIKH NAWAWI INTELEKTUAL TAK PERNAH KESEPIAN
Kritik
sosial yang dituangkan melalui sebuah tulisan salah satu alumni Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa, Adang Akbarudin yang berjudul “Syaikh Nawawi Intelektual Banten yang Kesepian” sepertinya keliru.
Hal ini menggambarkan betapa kita sebagai masyarakat Banten merasa sedih dan
kecewa karena selama ini perhatian ulama-ulama pondok pesantren begitu pula
dengan para santrinya mengkaji dan mendalami karya-karya brilian sang maha guru
tersebut, seperti Kasyifatussaja’,
‘Uqudul Luzayn, Sullamul Munajah, Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Qur’ani Madjid
atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir
Munir. Setidaknya, karya-karya tersebut populer di kalangan masyarakat
Banten lantaran digunakan sebagai bahan ajar/kajian di pondok pesantren di
Banten. Selain itu karya Ulama dunia kelahiran Tanara, serang-Banten itu juga
tersebar di belahan dunia, seperti Mesir, Arab Saudi, India dan Belanda.
Karya-karya monumental Syaikh Nawawi baik di bidang teologi, fiqih, hadits
maupun tafsir sampai saat ini masih berkembang hidup dan ramai digunakan para
intelektual-intelektual seantero dunia. Artinya, intelektualisme Syaikh Nawawi
hingga kini mendapat tempat yang luas dari masyarakat. Tidak hanya masyarakat
Banten melainkan masyarakat dunia. Sesungguhnya sang ulama besar itu tidak
pernah kesepian.
Dalam
tulisan seorang alumni Untirta itu juga menyebutkan bahwa nama besar Syaikh
Nawawi sebagai tokoh intelektual kharismatik dari Banten luput dari penggunaan
label atau nama perguruan tinggi dan pesantren-pesantren besar di Banten. Ketokohan
Ulama Syaikh Nawawi Al-Bantani saat ini memang tidak digunakan sebagai label
Universitas Negeri di Banten, baik di lingkungan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) maupun Kementerian Agama (IAIN
Sultan Maulana Hasanudin, Banten). Tetapi, ukuran untuk melanggengkan ketokohan
dan kharismatik Ulama besar itu tidak hanya pada satu sudut pandang saja. Syaik
Nawawi pun bukan kategori Pahlawan Nasional tetapi hampir di setiap peringatan
haul nya di Tanara senantiasa di kunjungi Kepala Negara. Artinya, komposisi
negara atau pemerintah tidak begitu penting untuk melanggengkan kebesaran nama
Syaikh Nawawi hanya dengan menggunakan nama perguruan tinggi, nama jalan
protokol (meskipun sudah ada nama Jl. Syaikh Nawawi Al-Bantani), nama
laboratorium, dan lain sebagainya tetapi tidak juga lupa begitu saja. Terbukti
sudah 119 tahun peringatan haul ulama besar itu, ketokohan dan kebesaran
namanya tetap terpelihara dari zaman ke zaman. Yang harus menjadi perhatian
kita hari ini adalah kemunculan Nawawi-nawawi lainnya yang akan meneruskan
cita-cita dan pemikirannya.
Ketokohan
Syaikh Nawawi memang lahir dari dunia intelektual dan karenanya
peninggalan-peninggalannya pun merupakan karya agung yang harus dipelajari dari
generasi ke generasi. Keberadaan kita sebagai bagian dari anak cucu nya
khususnya masyarakat Banten patut kembali dipertanyakan ketika budaya diskusi
dan tradisi mengaji kian luntur dari peradaban, tradisi menulis yang kian
surut, apalagi tradisi membaca yang semakin membosankan. Kita boleh berbangga
memiliki putera kelahiran Banten yang menjadi tokoh sentral bidang pemikiran
pada zamannya namun sebaiknya renungan kita bukan hanya mengapa nama Syaikh
Nawawi tidak dijadikan lambang bagi kebesaran-kebesaran baju kita, lambang
bendera kita, poto dinding rumah kita. Semua itu tidak akan mengubah keadaan
kita yang menginginkan masa kejayaan intelektual Syaikh Nawawi kembali hadir di
tengah-tengah masyarakat Banten saat ini.
Otokritik
Umat
Islam yang berkesempatan mengunjungi (ziarah) ke tanah kelahiran Syaikh Nawawi
di Desa Tanara, Kecamatan Tanara Kabupaten Serang, Banten adalah bentuk
kegemaran masyarakat terhadap satu cendekiawan Banten itu. Setiap tanggal 25
Syawal dan di hari Jumat akhir bulan Syawal peringatan haul syaikh Nawawi itu
digelar dengan ramai dikunjungi kalangan masyarakat. Tidak hanya berasal dari
Banten saja tetapi juga ada yang datang dari luar Banten, seperti Madura,
Cirebon, Bogor dan lain-lain untuk turut meramaikan peringatan haul sang maha
guru itu.
Hendaknya
kita tidak berburuk sangka terlebih dahulu tentang kedatangan para jamaah yang
berziarah ke tanah kelahiran Syaikh Nawawi. Meskipun ada saja yang hendak
mengharap keberkahan dengan cara-cara mistis yang oleh sebagian orang dianggap
khurafat, tahayyul dan bid’ah tetapi ada sisi baik yang harus dijadikan
pelajaran. Kunjungan (ziarah) ke tanah kelahiran sang maha guru itu dapat
mengingatkan kita kepada zaman sang ulama besar itu hidup. Paling tidak, kita
menyelami napak tilas perjalanan hidup sang ulama besar yang kini namanya
mendunia. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri bagi peziarah dan tentu saja
mengandung nilai positif.