LEBIH DARI RITUAL


Jika seorang muslim ditanya tentang makna ibadah kepada Allah maka ia akan segera bergegas mengucap Astaghfirullah lantaran ibadahnya karena hal duniawi atau apa pun selain tertuju kepada-Nya. Sungguh muslim sejati adalah mereka yang senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah agar terbebas dari hal-hal selain Dia. Adalah Allah Tuhan Yang Satu dan tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dalam buku yang ditulis Jalaludin Rakhmat, saya terpukau ketika dikisahkan seorang muslim yang berusaha menyempurnakan ibadah dalam Islam.

Sejak kecil tentu kita diajarkan oleh guru-guru kita ataupun orang tua kita tentang rukun Islam. Mulai dari membaca syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji ke baitullah. Urutan pertama sampai ke-empat lebih banyak dilakukan sebagian besar muslim, tetapi urutan ke-lima tidak semua muslim bisa melakukannya, lantaran ibadah tersebut membutuhkan kebutuhan materi, khususnya muslim yang tinggal di Indonesia, karena ibadah tersebut tidak bisa dilakukan dimana saja melainkan hanya bisa dilakukan di Tanah suci Makkah, begitu orang menyebutnya.
Oleh karena itu, dengan kebijaksanaan Islam siapa yang tidak mempunyai bekal untuk melakukan perjalanan ibadah haji maka cukup ia melakukan ibadah yang sesuai dengan kemampuannya. Artinya, ibadah ini tidak diwajibkan bagi muslim yang tidak mampu untuk melaksanakannya.
Kendati demikian, setiap muslim selalu berusaha ingin menunaikan ibadah haji ini. Karena ibadah ini cukup mempunyai keistimewaan dalam menunaikannya. Disamping bisa melihat langsung ka’bah, juga bisa berkunjung ke makam Rasulullah saw. dan yang paling istimewa, berdasarkan ribuan penuturan jamaah haji ibadah ini merupakan gambaran dikumpulkannya manusia di padang mahsyar. Tentu kalau kita merujuk kepada Al-Quran tentang nilai dan kualitas ibadah seseorang tergantung kepada niat dan tujuannya. Apalah artinya ibadah haji jikalau hanya diniatkan untuk berlibur, atau supaya meningkatkan status sosialnya, bangga disebut pak haji atau bu haji oleh anggota masyarakat. Sama sekali tidak mempunyai arti apa-apa kalau hanya sebatas itu.
Berkenaan dengan  ibadah dalam Islam atau khususnya ibadah haji. Suatu ketika ada seorang muslim yang baru saja pulang ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji. Melihat kehidupannya yang sehari-hari rajin beribadah, seorang pemuda melihat kondisi masyarakat sekeliling tempat tinggal orang tersebut. Ternyata, para tetangganya hidup dalam kemiskinan. Tempat tinggal yang mereka huni hanya terbuat dari sisa-sisa bambu yang kemudian direntetkan menjadi dinding, anak-anak yang seharusnya bersekolah terpaksa mencari penghidupan dengan mengamen dari bis-ke bis. Sungguh pemuda tersebut mengucap subhanallah. Artinya, dengan adanya orang mampu yang tinggal di sekeliling orang dhaif pemuda tersebut mendapatkan hikmah yang luar biasa. Ia menyadari betapa Islam adalah agama humanis, mengajarkan untuk saling tolong-menolong dan tidak hidup dalam kesendirian. Ibnu Chaldun dalam Muqaddimah mengatakan bahwa Al-Insanu Madaniyun Bithab’i , yaitu manusia mempunyai kebutuhan akan kehadiran manusia lain.
Sehingga pemuda itu berpikir apalah artinya ibadah haji yang ditunaikan orang mampu tersebut sementara tetangganya membutuhkan uluran tangannya. Hikmahnya adalah bahwa ibadah dalam Islam mempunyai pesan lahiriyah dan pesan bathiniyah. Pesan lahiriyah memang perlu dilakukan. Ibadah-ibadah yang dilakukan dengan pesan lahiriyah mempunyai nilai penting untuk menunaikan perintah Allah. Semacam ibadah haji tersebut. Makna lahiriyahnya adalah bahwa ia telah menunaikan kewajiban seorang muslim yang mampu untuk menunaikannya. Tetapi juga tidak boleh melupakan pesan bathiniyahnya. Ibadah dalam Islam syarat dengan  tujuannya, yaitu mengharapkan ridho Allah swt.
Jika ditengah-tengah kita ada yang membutuhkan kasih sayang kita, pertolongan kita, maka sesungguhnya itu adalah ladang kita beribadah. Dengan begitu kita telah memahami betul makna daripada ibadah sholat, zakat, puasa dan haji. Ibadah yang terkandung dalam rukun Islam tersebut bukan hanya simbol ataupun ritualitas saja melainkan memiliki makna yang lebih daripadanya. 
Sejatinya muslim adalah yang mengutamakan kepentingan ummatnya, bukan kepentingan pribadinya. Hal ini telah nyata dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam kesehariannya beliau selalu mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan pribadinya atau keluarganya. Sebagai ummatnya kita patut mencontohnya. Sekian ribu umat Islam di Indonesia yang menunaikan ibadah haji dalam setiap tahunnya, tetapi kemiskinan dan kebodohan masih saja dalam jumlah yang banyak. Tidakkah mereka memikirkan keadaan di sekeklilingnya? Nilai kemanusiaan dalam Islam telah menjadikan sifat dan watak umat Islam menjadi humanis, dan tidak sebaliknya. Masa depan Islam tergantung umatnya bukan penganutnya. Jika penganutnya hanyalah seorang tetapi ummat sekian banyak orang. Maka untuk menjadikan Islam ini sebagai ummat perlu adanya kesatuan yang kokoh.
Jikalau kita sudah memahami nilai ibadah ritual maka kedepan Islam akan lebih maju. Tidak sekedar ritual saja. Islam mempunyai kepekaan terhadap kehidupan sosial. Kemenangan Islam ditandai dengan kemajuan ummatnya. Jika ummat Islam mengalami kemunduran maka Islam pun telah mundur. Kemiskinan, kebodohan adalah permasalahan yang kini dialami oleh ummat Islam. Semua itu bisa diatasi manakala ummat Islam menjadi muslim yang selalu peduli terhadap lingkungannya.

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI LIU XIAOBO

SI DOEL JADI GUBERNUR ?

ATUT CHOSIYAH: Pemuda Harus Menjadi Estafet Kepemimpinan