BANTEN JELANG PILGUB 2011
Genderang politik lokal semakin menunjukkan raut wajah yang bermacam-macam rupa. Sang pemain sejati kian sibuk mencari simpati massa demi kepentingan dukungan. Tak terkecuali, ghiroh untuk menjadi sang kandidat juga dirasakan oleh kepala daerah (bupati/walikota) yang merasa pantas untuk mengikuti bursa calon Gubernur Banten. Sebut saja Wahidin Halim (walikota Tangerang) dan Mulyadi Jaya Baya (Bupati Lebak) keduanya dikabarkan akan meramaikan pesta demokrasi rakyat Banten di tahun 2011 ini.
Semarak dan semangat masyarakat pun terlihat mulai nampak, satu per satu dari mereka mulai merapatkan barisan ke arah mana yang mereka hendaki. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan politik demokratik bagi bangsa Indonesia. Dari mulai sudut kanan sampai sudut kiri sudah terlihat gejolak penggalangan dukungan masyarakat untuk kepentingan kandidat yang dipercayainya. Dari sisi sosial, budaya dan ekonomi akan sangat berpengaruh dengan memasukinya masa jelang Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA).
Pertama, sebagian besar masyarakat kita sudah mulai membuka obrolan soal kandidat siapa yang layak menjadi Gubernur Banten periode 2011-2016 ini? cakrawala baru bagi kondisi sosial kita adalah terbukanya informasi soal kandidat Pilgub Banten di ruang-ruang terbuka. Selain itu, gejolak politik di tataran politisi pun semakin gencar memperbincangkan kandidat mana yang akan diusung oleh partainya, apakah mengambil dari luar kader atau memposisikan kader sebagai kandidatnya? sungguh terasa sekali fenomena Pilgub Banten 2011 ini oleh semua kalangan masyarakat.
Pada dasarnya, demokrasi Indonesia telah secara jelas menerangkan bahwa seluruh masyarakat dapat secara terbuka mewacanaka kandidatnya, baik dari kalangan masyarakat umum, politisi, birokrasi sampai kepada mahasiswa dan aktivis sosial. Disana ditegaskan bahwa seluruh masyarakat yang terlibat proses demokrasi dapat mengemukakan dan menerima informasi seputar proses demokrasi secara terbuka dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan. Kedua, dari sisi budaya masyarakat Banten kini telah dihadapkan pada hiruk pikuk jelang pesta demokrasi yang dapat merubah wacana budaya yang ada. Aktivitas yang dilakukan sejumlah tokoh politik, tokoh masyarakat dan birokasi di Banten yang kaitannya dengan persiapan Pilgub telah menjadi duduk perkara budaya yang terjadi pada masyarakat Banten.
Bahwa dimensi sosial-budaya telah menunjukkan adanya gerakan pengkondisian massa yang dilakukan oleh sejumlah pemangku kepentingan. Tak terkecuali, ormas-ormas kepemudaan kini tengah menentukan sikap untuk mendapatkan bagian dari proses demokrasi tersebut. Jika diibaratkan pada sebuah pesawat yang hendak terbang, Banten saat ini tengah diisi oleh awak-awak yang siap mengoperasikan pesawat menuju langit tinggi. Seperti itulah gambarannya kondisi Banten saat ini. Akan lebih dimeriahkan lagi saat beberapa kepala daerah seperti Wahidin dan Jaya Baya serta Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah dikabarkan akan bersiap sedia menjadi kandidat pada Pilgub Banten 2011 ini.
Kondisi tersebut di atas juga berpengaruh pada tata lingkungan di sejumlah wilayah Banten, seperti adanya baliho-baliho kandidat, iklan politik yang tersebar di berbagai reklame dan sejumlah cara lainnya yang turut meramaikan detik-detik jelang Pilgub ini. Tetapi nampaknya, masyarakat hanya akan mengukur sejauh mana kandidat dapat bersosialisasi dengannya serta membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat dan bagi pembangunan di Banten ini.
Melihat kondisi Banten saat ini, yaitu jelasng Pilgub 2011 masyarakat harus lebih waspada terhadap perilaku politisi dan kandidat tentang komunikasi persuasif yang dilakukannya guna meraup dukungan massa demi kepentingan politiknya. Bahwa tidak menutup kemungkinan, pada saat-saat seperti ini, kondisi masyarakat kita banyak pula yang menjadikan momentum ini sebagai kesempatan mendapatkan imbalan dari para kandidat. Kalau sudah begitu, akan hilang nilai-nilai demokrasi sejati dalam proses demokratisasi di Banten ini. Semoga masyarakat tetap melihat dan menilai dengan akal pikirannya tetang siapa yang pantas untuk meneruskan kepemimpinan di Banten ini demi kemaslahatan masyarakat Banten secara merata.
Semarak dan semangat masyarakat pun terlihat mulai nampak, satu per satu dari mereka mulai merapatkan barisan ke arah mana yang mereka hendaki. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan politik demokratik bagi bangsa Indonesia. Dari mulai sudut kanan sampai sudut kiri sudah terlihat gejolak penggalangan dukungan masyarakat untuk kepentingan kandidat yang dipercayainya. Dari sisi sosial, budaya dan ekonomi akan sangat berpengaruh dengan memasukinya masa jelang Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA).
Pertama, sebagian besar masyarakat kita sudah mulai membuka obrolan soal kandidat siapa yang layak menjadi Gubernur Banten periode 2011-2016 ini? cakrawala baru bagi kondisi sosial kita adalah terbukanya informasi soal kandidat Pilgub Banten di ruang-ruang terbuka. Selain itu, gejolak politik di tataran politisi pun semakin gencar memperbincangkan kandidat mana yang akan diusung oleh partainya, apakah mengambil dari luar kader atau memposisikan kader sebagai kandidatnya? sungguh terasa sekali fenomena Pilgub Banten 2011 ini oleh semua kalangan masyarakat.
Pada dasarnya, demokrasi Indonesia telah secara jelas menerangkan bahwa seluruh masyarakat dapat secara terbuka mewacanaka kandidatnya, baik dari kalangan masyarakat umum, politisi, birokrasi sampai kepada mahasiswa dan aktivis sosial. Disana ditegaskan bahwa seluruh masyarakat yang terlibat proses demokrasi dapat mengemukakan dan menerima informasi seputar proses demokrasi secara terbuka dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan. Kedua, dari sisi budaya masyarakat Banten kini telah dihadapkan pada hiruk pikuk jelang pesta demokrasi yang dapat merubah wacana budaya yang ada. Aktivitas yang dilakukan sejumlah tokoh politik, tokoh masyarakat dan birokasi di Banten yang kaitannya dengan persiapan Pilgub telah menjadi duduk perkara budaya yang terjadi pada masyarakat Banten.
Bahwa dimensi sosial-budaya telah menunjukkan adanya gerakan pengkondisian massa yang dilakukan oleh sejumlah pemangku kepentingan. Tak terkecuali, ormas-ormas kepemudaan kini tengah menentukan sikap untuk mendapatkan bagian dari proses demokrasi tersebut. Jika diibaratkan pada sebuah pesawat yang hendak terbang, Banten saat ini tengah diisi oleh awak-awak yang siap mengoperasikan pesawat menuju langit tinggi. Seperti itulah gambarannya kondisi Banten saat ini. Akan lebih dimeriahkan lagi saat beberapa kepala daerah seperti Wahidin dan Jaya Baya serta Gubernur Banten Hj. Ratu Atut Chosiyah dikabarkan akan bersiap sedia menjadi kandidat pada Pilgub Banten 2011 ini.
Kondisi tersebut di atas juga berpengaruh pada tata lingkungan di sejumlah wilayah Banten, seperti adanya baliho-baliho kandidat, iklan politik yang tersebar di berbagai reklame dan sejumlah cara lainnya yang turut meramaikan detik-detik jelang Pilgub ini. Tetapi nampaknya, masyarakat hanya akan mengukur sejauh mana kandidat dapat bersosialisasi dengannya serta membawa perubahan bagi kesejahteraan masyarakat dan bagi pembangunan di Banten ini.
Melihat kondisi Banten saat ini, yaitu jelasng Pilgub 2011 masyarakat harus lebih waspada terhadap perilaku politisi dan kandidat tentang komunikasi persuasif yang dilakukannya guna meraup dukungan massa demi kepentingan politiknya. Bahwa tidak menutup kemungkinan, pada saat-saat seperti ini, kondisi masyarakat kita banyak pula yang menjadikan momentum ini sebagai kesempatan mendapatkan imbalan dari para kandidat. Kalau sudah begitu, akan hilang nilai-nilai demokrasi sejati dalam proses demokratisasi di Banten ini. Semoga masyarakat tetap melihat dan menilai dengan akal pikirannya tetang siapa yang pantas untuk meneruskan kepemimpinan di Banten ini demi kemaslahatan masyarakat Banten secara merata.