GUNUNG MERAPI KEMBALI MELETUS
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandrio mengatakan, luncuran awan panas yangterjadi kemarin sore pukul 16.40 ini relatif kecil. ”Namun yang perlu diperhatikan, luncuran kali ini diprediksi akan diikuti oleh luncuran berikutnya,” ujarnya kepada wartawan.
Hal ini berarti, erupsi kemungkinan besar masih akan terjadi sehingga Gunung Merapi belum benar-benar aman. Untuk itu, pihaknya masih tetap pada keputusan untuk memberikan status awas pada Gunung Merapi hingga beberapa hari kedepan. Meski demikian, hingga kemarin sore BPPTK belum bisa mengamati apakah Gunung Merapi sudah membentuk kubah lava baru seperti kebiasaannya setelah meluncurkan awan panas atau belum lantaran cuaca mendung yang menutup pengamatan visual ke puncak Merapi.
Letusan kemarin sore juga belum bisa diamati secara jelas apakah dalam letusan tersebut diikuti oleh magma yang ada di tubuh gunung atau tidak. Padahal, kemungkinan Merapi bisa turun aktifitasnya apabila material yang ada di tubuh gunung sudah dikeluarkan. Sedangkan yang terjadi dalam erupsi Selasa lalu, material yang keluar dipastikan hanya sedikit.
“Ada kira-kira 7,5 juta meter kubik material dalam tubuh Merapi yang akan keluar. Dan ini belum semuanya keluar. Maka tunggu setelah empat atau lima hari lagi apa akan terjadi erupsi atau tidak,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.
Gempa bumi yang terjadi kemarin siang, kata dia, juga bisa memicu meningkatnya aktifitas Merapi. Namun BPPTK Jogjakarta juga belum bisa memastikan apakah erupsi yang terjadi sore kemarin ada hubungannya dengan gempa tektonik kemarin pagi atau tidak. Gempa terjadi pukul 08.39 berkekuatan 4 Skala Richter (SR) yang berpusat pada 8,02 LS dan -110,49 BT, tepatnya di 13 Km barat daya Wonosari di sungai Opak yang masuk wilayah Bantul.
“Sejak terjadi letusan Selasa 26 Oktober 2010, aktifitas Merapi tidak menunjukkan gejala berarti. Namun tadi pagi (kemarin-red) terjadi gempa vulkanik yang cukup terasa dan usai terjadi gempa di Bantul aktifitas meningkat lagi dan awan panas kembali meluncur,” kata Subandrio.
Berdasar pengalaman erupsi Merapi tahun 2006, gempa tektonik bisa memicu peningkatan aktifitas gunung berapi. Waktu itu aktifitas Merapi mulai menurun dan statusnya diturunkan dari Awas ke Siaga. Namun usai terjadi Gempa Teknonik berkekuatan 5,9 SR tanggal 27 Mei 2006 di Bantul, aktifitas Merapi spontan meningkat. Erupsi besar dengan luncuran awan panas pun menghancurkan kawasan hutan Kaliadem.
Menyikapi hal ini, Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan pihaknya akan tegas memberi instruksi bahwa para pengungsi harus tetap tinggal terlebih dahulu di barak pengungsian, hingga pihaknya mendapat rekomendasi BPPTK bahwa Merapi sudah aman. Ia akan menahan warga dan meminta warga untuk bersabar karena dikhawatirkan Merapi masih akan erupsi.
Lava Pijar Mengancam
Badan Penyeledikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Jogjakarta juga memperkirakan Merapi masih berpeluang akan meluncurkan lava pijar.
Ini berdasarkan catatan BPPTK dari letusan-letusan Merapi sebelumnya. Usai meluncurkan awan panas, fenomena Merapi akan memunculkan kubah-kubah lava baru yang menutup lava letusan terdahulu. “Saat ini, status masih kami tetap awas (level IV) atau teratas,” kata Kepala BPPTK Subandrio.
Subandrio menjelaskan, letusan Merapi pada tahun 1786, 1822, 1872, 1930, dan 2006 selalu diikuti magma atau lava pijar. Lava tersebut yang kemudian membentuk kubah lava yang dapat menimbulkan awan panas. “Semakin besar kubah lava yang terbentuk, awan panas juga kian besar,” imbuhnya.
Subandrio mengaku, erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini sulit mereka prediksi. Ini tampak dari kondisi Merapi kemarin yang sempat tenang tapi akhirnya pada sore hari kembali meluncurkan awan panas.
Kondisi tersebut, menurutnya, juga belum menampakkan lava pijar yang keluar dari perut gunung. Padahal, jika lava pijar ini nanti keluar dari puncak gunung, kubah lava lama, yang berada di sisi selatan yang disebut Geger Boyo berpotensi akan longsor. Longsoran tersebut, mereka perkirakan akan membawa volume material lebih tiga juta meter kubik.
“Kalau jumlah magma kecil, tidak masalah. Tapi, kalau jumlahnya besar, itu akan longsor sejauh minimal tiga kilometer,” sambungnya.
Longsoran material ini, Subandrio perkirakan, akan mengancam sampai dengan Kali Kuning dan Kali Boyong yang berada di sisi selatan. Peluang longsoran ini memang cukup jauh mengingat volume Geger Boyo yang pada letusan 2006 silam tak semuanya longsor. “Tapi, kami masih akan menunggu perkembangan aktivitas Merapi,” tambahnya.
Korban Tewas 33 Orang
Jika Mbah Marijan dan dua anggota keluarganya dimakamkan di dusun Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, tidak demikian dengan jenazah korban amuk Merapi lainnya.
Sebanyak 20 jenazah dimakamkan secara massal di pemakaman dusun Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan.
Salah satunya adalah Ratika, bayi yang tewas saat disusui oleh ibunya Emi Sulistyawati. Ibu dan anak itu dimakamkan dalam satu liang lahat karena kondisi tubuh keduanya saling menempel dan tak bisa dipisahkan.
Sedangkan jenazah sisanya telah diambil oleh keluarga masing-masing untuk dimakamkan secara terpisah. Keduapuluh jenazah dimasukkan dalam satu liang lahat yang telah digali menggunakan alat berat. Tiap jenazah ditunggui oleh para ahli waris.
Prosesi pemakaman massal dilakukan terlebih dahulu saat jenazah Mbah Marijan sedang disalatkan di masjid kampus Universitas Islam Indonesia yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Cangkringan. Bupati
Sleman Sri Purnomo terlebih dahulu memimpin prosesi pemakaman massal sebelum hadir ke pemakaman Mbah Marijan. “Semoga keluarga yang
ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan,” imbau bupati. Sri Purnomo meminta kepada masyarakat Sleman agar bisa mengambil hikmah dari musibah yang menimpa warga Cangkringan.
Hal ini berarti, erupsi kemungkinan besar masih akan terjadi sehingga Gunung Merapi belum benar-benar aman. Untuk itu, pihaknya masih tetap pada keputusan untuk memberikan status awas pada Gunung Merapi hingga beberapa hari kedepan. Meski demikian, hingga kemarin sore BPPTK belum bisa mengamati apakah Gunung Merapi sudah membentuk kubah lava baru seperti kebiasaannya setelah meluncurkan awan panas atau belum lantaran cuaca mendung yang menutup pengamatan visual ke puncak Merapi.
Letusan kemarin sore juga belum bisa diamati secara jelas apakah dalam letusan tersebut diikuti oleh magma yang ada di tubuh gunung atau tidak. Padahal, kemungkinan Merapi bisa turun aktifitasnya apabila material yang ada di tubuh gunung sudah dikeluarkan. Sedangkan yang terjadi dalam erupsi Selasa lalu, material yang keluar dipastikan hanya sedikit.
“Ada kira-kira 7,5 juta meter kubik material dalam tubuh Merapi yang akan keluar. Dan ini belum semuanya keluar. Maka tunggu setelah empat atau lima hari lagi apa akan terjadi erupsi atau tidak,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono.
Gempa bumi yang terjadi kemarin siang, kata dia, juga bisa memicu meningkatnya aktifitas Merapi. Namun BPPTK Jogjakarta juga belum bisa memastikan apakah erupsi yang terjadi sore kemarin ada hubungannya dengan gempa tektonik kemarin pagi atau tidak. Gempa terjadi pukul 08.39 berkekuatan 4 Skala Richter (SR) yang berpusat pada 8,02 LS dan -110,49 BT, tepatnya di 13 Km barat daya Wonosari di sungai Opak yang masuk wilayah Bantul.
“Sejak terjadi letusan Selasa 26 Oktober 2010, aktifitas Merapi tidak menunjukkan gejala berarti. Namun tadi pagi (kemarin-red) terjadi gempa vulkanik yang cukup terasa dan usai terjadi gempa di Bantul aktifitas meningkat lagi dan awan panas kembali meluncur,” kata Subandrio.
Berdasar pengalaman erupsi Merapi tahun 2006, gempa tektonik bisa memicu peningkatan aktifitas gunung berapi. Waktu itu aktifitas Merapi mulai menurun dan statusnya diturunkan dari Awas ke Siaga. Namun usai terjadi Gempa Teknonik berkekuatan 5,9 SR tanggal 27 Mei 2006 di Bantul, aktifitas Merapi spontan meningkat. Erupsi besar dengan luncuran awan panas pun menghancurkan kawasan hutan Kaliadem.
Menyikapi hal ini, Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan pihaknya akan tegas memberi instruksi bahwa para pengungsi harus tetap tinggal terlebih dahulu di barak pengungsian, hingga pihaknya mendapat rekomendasi BPPTK bahwa Merapi sudah aman. Ia akan menahan warga dan meminta warga untuk bersabar karena dikhawatirkan Merapi masih akan erupsi.
Lava Pijar Mengancam
Badan Penyeledikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPTK) Jogjakarta juga memperkirakan Merapi masih berpeluang akan meluncurkan lava pijar.
Ini berdasarkan catatan BPPTK dari letusan-letusan Merapi sebelumnya. Usai meluncurkan awan panas, fenomena Merapi akan memunculkan kubah-kubah lava baru yang menutup lava letusan terdahulu. “Saat ini, status masih kami tetap awas (level IV) atau teratas,” kata Kepala BPPTK Subandrio.
Subandrio menjelaskan, letusan Merapi pada tahun 1786, 1822, 1872, 1930, dan 2006 selalu diikuti magma atau lava pijar. Lava tersebut yang kemudian membentuk kubah lava yang dapat menimbulkan awan panas. “Semakin besar kubah lava yang terbentuk, awan panas juga kian besar,” imbuhnya.
Subandrio mengaku, erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini sulit mereka prediksi. Ini tampak dari kondisi Merapi kemarin yang sempat tenang tapi akhirnya pada sore hari kembali meluncurkan awan panas.
Kondisi tersebut, menurutnya, juga belum menampakkan lava pijar yang keluar dari perut gunung. Padahal, jika lava pijar ini nanti keluar dari puncak gunung, kubah lava lama, yang berada di sisi selatan yang disebut Geger Boyo berpotensi akan longsor. Longsoran tersebut, mereka perkirakan akan membawa volume material lebih tiga juta meter kubik.
“Kalau jumlah magma kecil, tidak masalah. Tapi, kalau jumlahnya besar, itu akan longsor sejauh minimal tiga kilometer,” sambungnya.
Longsoran material ini, Subandrio perkirakan, akan mengancam sampai dengan Kali Kuning dan Kali Boyong yang berada di sisi selatan. Peluang longsoran ini memang cukup jauh mengingat volume Geger Boyo yang pada letusan 2006 silam tak semuanya longsor. “Tapi, kami masih akan menunggu perkembangan aktivitas Merapi,” tambahnya.
Korban Tewas 33 Orang
Jika Mbah Marijan dan dua anggota keluarganya dimakamkan di dusun Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, tidak demikian dengan jenazah korban amuk Merapi lainnya.
Sebanyak 20 jenazah dimakamkan secara massal di pemakaman dusun Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan.
Salah satunya adalah Ratika, bayi yang tewas saat disusui oleh ibunya Emi Sulistyawati. Ibu dan anak itu dimakamkan dalam satu liang lahat karena kondisi tubuh keduanya saling menempel dan tak bisa dipisahkan.
Sedangkan jenazah sisanya telah diambil oleh keluarga masing-masing untuk dimakamkan secara terpisah. Keduapuluh jenazah dimasukkan dalam satu liang lahat yang telah digali menggunakan alat berat. Tiap jenazah ditunggui oleh para ahli waris.
Prosesi pemakaman massal dilakukan terlebih dahulu saat jenazah Mbah Marijan sedang disalatkan di masjid kampus Universitas Islam Indonesia yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Cangkringan. Bupati
Sleman Sri Purnomo terlebih dahulu memimpin prosesi pemakaman massal sebelum hadir ke pemakaman Mbah Marijan. “Semoga keluarga yang
ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan,” imbau bupati. Sri Purnomo meminta kepada masyarakat Sleman agar bisa mengambil hikmah dari musibah yang menimpa warga Cangkringan.